You are hereEvakuasi Medan Sulit (EMS) dalam Latihan Gabungan Matalabiogama di Kajoran, Kaliangkrik

Evakuasi Medan Sulit (EMS) dalam Latihan Gabungan Matalabiogama di Kajoran, Kaliangkrik


By adminweb - Posted on 27 November 2009

sdgsdfgh.jpg
Fitria Handayani (18 tahun/perempuan/berbaju biru tua), terpisah dari rombongan trekkingnya di Gunung Tedeng, Kajoran. Setelah dilakukan pencarian oleh teman-temannya dan warga setempat, Fitria belum juga ditemukan. Fitria Handayani hilang.
Dalam SAR, harus ada manajemen yang jelas. Organisasi dalam penyelenggaraan SAR meliputi: 1). SC (SAR Coordinator), 2). SMC (SAR mission Coordinator), 3). OSC (On Scene Commander), 4). SRU (Search and Rescue Unit). Tanggal 30 Oktober 2009 Tim Gareng dan Tim Petruk sebagai Tim SRU diberangkatkan menuju Kajoran. Tim sampai di Kenteng pada malam hari dan langsung membuat camp disana. Tiap tim terdiri dari 10 orang dengan pembagian tugas sebagai perambah, leader, komunikator, navigator, logistic, P3K, perkap, dan sweeper. Tim tersebut masing-masing bertugas untuk mencari Fitria. Pencarian dimulai tanggal 31 Oktober 2009 pagi hari, mulai dari titik dimana Fitria terpisah menuju titik dimana dia terakhir terlihat. Untuk menentukan titik ini dilakukan orientasi medan terlebih dahulu. Peta yang digunakan dalam pencarian ini adalah peta RBI (Rupa Bumi Indonesia). Dalam pencarian ini kebanyakan digunakan metode line karena kondisi medannya mempunyai jalan yang sempit dan naik-turun. Dalam pencarian, para tim menemukan barang-barang yang diduga merupakan milik korban. Di tempat barang-barang tersebut ditemukan kemudian dipasang marker sebagai penanda dan barang yang ditemukan dibawa oleh tim. Marker diletakkan di tempat yang mudah terlihat sehingga mudah ditemukan tim SRU yang lain. Marker ini memberi informasi kepada tim SRU yang lain tentang barang yang ditemukan, kondisi tim dan lain sebagainya. Sampai sore hari, Fitria belum juga ditemukan, karena hari mulai gelap dan tim sudah lelah maka pencarian dihentikan sementara. Malam harinya dilakukan evaluasi dari OSC kepada tim SRU.
Keesokan harinya, tanggal 1 November 2009 pencarian dilanjutkan. Setelah siap, tim SRU langsung melakukan ormed untuk mengetahui posisi saat itu. Kemudian pencarian dilanjutkan dengan menuruni perbukitan. Ketika dalam pencarian menuju sungai, tim Petruk menemukan korban tergeletak di batu-batu di tengah sungai, dan berada di medan yang terjal. Tim Petruk langsung meuncur ke lokasi dan memberi pertolongan pertama seraya memberitakan kepada OSC bahwa Fitria telah ditemukan dan akan segera dievakuasi, serta menyampaikan kepada OSC bahwa tim SRU membutuhkan alat-alat untuk evakuasi secepatnya. Kemudian tim Gareng datang membantu jalannya evakuasi. Dari hasil ormed tempat tersebut, maka diputuskan untuk dilakukan evakuasi dalam medan sulit. Tim kemudian dibagi lagi menjadi tim P3K, tim rigging bawah, tim rigging atas, konsumsi, dan komunikator. Untuk mengevakuasi korban digunakan lintasan tyrolean pulley mobile. Untuk membuat lintasan ini dibutuhkan alat-alat seperti webbing, carabiner, tali kernmantel, dragbar, dan alat-alat yang lain.
Tim P3K berusaha untuk menyadarkan korban dan mengobati luka korban untuk sementara. Korban dievakuasi ke tempat yang lebih aman seraya menunggu rigging lintasan selesai. Tim rigging melakukan rigging dan memperkirakan alat-alat yang digunakan dan diperlukan untuk membuat lintasan. Lintasan tyrolean ini terdiri dari beberapa bagian pokok, yaitu lintasan tali tegang dan lowering. Tim konsumsi menyediakan makanan maupun minum untuk korban serta mempersiapkan apa yang dibutuhkan untuk merawat korban. Sedangkan komunikator menjaga komunikasi antara tim penolong dengna OSC dan antara tim rigging atas dengan tim rigging bawah. Lintasan yang dibuat melintasi sungai, kemudian korban dibawa menuju ke atas dengan lintasan ini. Korban diletakkan d atas dragbar yang dipasangkan ke lintasan dan korban diberi pengaman agar tidak terjatuh saat evakuasi berlangsung. Dalam proses evakuasi ini antara tim atas sebagai penarik tali dan tim bawah sebagai pengawas korban serta pengulur tali harus ada komunikasi yang baik agar proses evakuasi berjalan dengan lancar. Setelah sampai di atas, korban kemudian diturunkan dari lintasan evakuasi dan dibawa ke rumah sakit untuk penanganan medis secara lanjut. Kemudian lintasan dicleaning dan dicek kelengkapan alat-alat yang telah digunakan.
Evakuasi selesai, evaluasi dimulai…..dan saatnya tim SRU kembali ke Yogyakarta.

Vivat et Floreat
by: Nuri (Betet_MTL/AM)

Tags

Who's online

There are currently 0 users and 2 guests online.